Oleh :
Fabian Satya Rabani
(Siswa SMA
Talenta Bandung)
![]() |
Excelso coffee shop, Jalan Sentra Raya Selatan, Kota Bandung (Sumber Foto: Dokumen penulis/pp)
Kota
Bandung dikenal luas sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan industri
kreatif yang sangat pesat di Indonesia. Julukan sebagai kota kreatif tidak
hanya tercermin dari sektor fesyen, musik, dan seni visual, tetapi juga dari
perkembangan sektor kuliner dan gaya hidup urban.
Dalam
beberapa tahun terakhir, salah satu fenomena yang paling menonjol adalah
meningkatnya jumlah coffee shop yang tersebar hampir di seluruh sudut
Kota Bandung. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan tren konsumsi kopi,
tetapi juga menunjukkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat
perkotaan yang semakin kompleks.
Keberadaan
coffee shop di Bandung kini tidak lagi berfungsi semata-mata sebagai
tempat menikmati kopi. Lebih dari itu, kedai kopi telah bertransformasi menjadi
ruang sosial multifungsi: tempat bekerja (work from café), ruang diskusi
komunitas, lokasi pertemuan informal, hingga destinasi wisata alternatif bagi
warga lokal maupun wisatawan.
Perubahan
fungsi ini memperkuat posisi coffee shop sebagai bagian dari infrastruktur
sosial kota, yaitu ruang yang memfasilitasi interaksi, kreativitas, dan
pertukaran gagasan. Konsep ini sejalan dengan pemikiran Ray Oldenburg dalam The
Great Good Place (1999) yang menempatkan kafe dan kedai kopi sebagai third
place, yakni ruang penting di luar rumah dan tempat kerja yang membangun
kohesi sosial masyarakat urban.
Peningkatan
popularitas coffee shop di Kota Bandung juga berkaitan erat dengan
perubahan pola perilaku masyarakat, khususnya generasi muda dan pekerja
kreatif. Ardhana dan Widjajanti dalam artikel Perubahan Fungsi Kafe sebagai
Ruang Sosial di Kawasan Perkotaan (2020) menjelaskan bahwa kafe dan coffee
shop kini dipersepsikan sebagai ruang yang fleksibel, nyaman, dan relatif
netral. Ruang semacam ini memungkinkan individu melakukan berbagai aktivitas
sekaligus, mulai dari bekerja, bersosialisasi, hingga beristirahat, tanpa
tekanan formal seperti di kantor atau institusi pendidikan.
![]() |
TOMORO COFFEE, Jalan Braga, Kota Bandung (Sumber Foto: Dokumen penulis)
Budaya
nongkrong yang telah lama mengakar dalam masyarakat Sunda turut memperkuat
posisi coffee shop di Bandung. Tradisi berkumpul, berbincang, dan
bertukar cerita yang sebelumnya berlangsung di warung kopi tradisional kini
mengalami transformasi ruang dan citra. Coffee shop modern hadir dengan
desain interior yang estetik, fasilitas internet nirkabel, serta ragam menu
yang lebih variatif. Meskipun demikian, fungsi sosialnya tetap serupa, yaitu
sebagai ruang pertemuan yang cair dan inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat
kota.
![]() |
Contoh menu kopi di TOMORO COFFEE, Jalan Braga, Kota Bandung
(Foto: Dokumen penulis)
Dari
sisi ekonomi, menjamurnya coffee shop memberikan kontribusi signifikan
terhadap pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota
Bandung. Industri kopi membuka peluang kewirausahaan baru, mulai dari pemilik
kedai, barista, roaster, hingga pemasok bahan baku. Hal ini ditegaskan oleh
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam sambutannya pada acara Bandung
Coffee Carnival (30 November 2025).
Ia
menyatakan bahwa ekosistem kopi di Bandung telah mencapai fase kematangan,
ditandai dengan keterhubungan antarpelaku industri dari hulu hingga hilir serta
meningkatnya kesejahteraan pekerja di sektor ini. Menurutnya, maraknya coffee
shop tidak hanya menciptakan ruang konsumsi, tetapi juga membuka lapangan
kerja formal maupun informal, termasuk bagi pekerja paruh waktu.
Namun
demikian, pertumbuhan jumlah coffee shop yang sangat pesat juga
memunculkan tantangan baru, terutama terkait persebaran spasial dan tingkat
persaingan usaha. Di beberapa wilayah pusat kota seperti Coblong, Bandung
Wetan, dan Sumur Bandung, konsentrasi coffee shop sangat tinggi. Kondisi
ini menciptakan persaingan yang ketat antar pelaku usaha.
Di
sisi lain, terdapat wilayah-wilayah dengan jumlah penduduk besar dan aktivitas
sosial yang tinggi, tetapi masih relatif minim keberadaan coffee shop.
Situasi ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi ruang usaha di dalam
kota.
![]() |
Camp Coffee Indonesia, Jalan Kepatihan, Kota Bandung (Foto:
Dokumen penulis)
Untuk
mengidentifikasi peluang pengembangan coffee shop secara lebih merata,
diperlukan pendekatan analisis spasial berbasis data geografis. Analisis ini
memanfaatkan data persebaran coffee shop, jumlah penduduk per kecamatan,
batas administrasi wilayah, serta intensitas cahaya malam hari atau Nighttime
Light (NTL). Data NTL digunakan sebagai indikator tidak langsung dari
aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, khususnya pada malam hari, yang sangat
relevan dengan karakter operasional coffee shop.
Berdasarkan
data demografi yang dirilis dalam Kota Bandung dalam Angka 2024 oleh
Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2024), beberapa kecamatan seperti Bandung
Kulon, Babakan Ciparay, dan Kiaracondong memiliki jumlah penduduk yang tinggi.
Tingginya populasi ini menunjukkan potensi pasar yang besar bagi pengembangan
usaha coffee shop. Namun, jumlah penduduk perlu dikombinasikan dengan
indikator aktivitas wilayah agar analisis menjadi lebih komprehensif.
Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa Kecamatan Bandung Kulon memiliki potensi yang sangat tinggi untuk pengembangan coffee shop baru. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk besar dan tingkat aktivitas malam yang cukup signifikan, namun jumlah coffee shop yang beroperasi masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya market gap, yaitu kesenjangan antara potensi pasar dan ketersediaan layanan.
![]() |
Hampir setiap minimarket menyediakan kedai kopi (Foto: Dokumen penulis)
Temuan
ini sejalan dengan kajian Maulana, Putri, dan Nugraha dalam Analisis Spasial
Persebaran Kafe dan Coffee Shop di Kawasan Perkotaan (2021) yang menyatakan
bahwa kawasan berpenduduk padat dengan tingkat aktivitas sosial tinggi, tetapi
belum jenuh oleh usaha sejenis, merupakan lokasi strategis bagi pengembangan coffee
shop.
Dengan
demikian, meningkatnya popularitas coffee shop di Kota Bandung tidak
hanya mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat urban, tetapi juga membuka
peluang ekonomi dan perencanaan ruang kota yang strategis. Coffee shop
telah berkembang menjadi elemen penting dalam struktur sosial dan ekonomi
perkotaan. Melalui pendekatan analisis spasial yang berbasis data, pengembangan
coffee shop di Bandung dapat dilakukan secara lebih terarah, merata, dan
berkelanjutan, sehingga tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga
memperkaya kualitas ruang hidup masyarakat kota.(*)











