Sabtu, 14 Maret 2026

Nuanu Creative City Soroti Peran Seniman Perempuan dalam Ekosistem Kreatif

Sebagai sebuah ekosistem kreatif yang mempertemukan seni, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin, Nuanu Creative City terus menghadirkan ruang dimana berbagai gagasan dan perspektif dapat berkembang. Melalui berbagai platform yang dimilikinya—termasuk ruang seni seperti Labyrinth Art GalleryNuanu membuka kesempatan bagi para kreator untuk bereksperimen, mengekspresikan gagasan, serta berinteraksi dengan publik dalam percakapan kreatif yang lebih luas.

Sarita Ibnoe saat memandu workshop di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. (Kredit Foto: Nuanu Creative City/pp)

Pendekatan ini juga berangkat dari komitmen terhadap inklusivitas. Ruang kreatif di Nuanu tidak hanya menjadi tempat mempresentasikan karya, tetapi juga ruang pertemuan bagi ide, dialog, dan transfer pengetahuan antara seniman dan publik. Melalui berbagai program, diskusi, hingga interaksi langsung dengan audiens, Nuanu berupaya menjadi platform yang menghubungkan praktik artistik dengan komunitas yang lebih luas.

“Dalam ekosistem kreatif, perempuan membawa perspektif yang sangat penting—bukan hanya melalui karya yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan cara mereka membaca dunia,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Director of Brand and Communications Nuanu Creative City. “Di Nuanu, kami ingin memastikan bahwa ruang kreatif dapat menjadi platform yang terbuka bagi berbagai suara. Ketika seniman memiliki ruang untuk mengekspresikan gagasan sekaligus berbagi pengetahuan dengan audiens, ekosistem kreatif yang terbentuk menjadi jauh lebih hidup dan relevan.”

Dalam semangat International Women’s Day, Nuanu menyoroti karya dari dua seniman perempuan—Wicitra dan Sarita Ibnoe—yang saat ini menghadirkan karya mereka dalam pameran Semburat Bali di Labyrinth Art Gallery yang hadir hingga 22 Maret 2026. Melalui praktik artistik yang berbeda, keduanya menghadirkan refleksi personal tentang pengalaman hidup, lingkungan, serta cara perempuan melihat dan merespons dunia di sekitarnya. 

Lanskap Feminin dan Ritme Alam 

Wicitra Pradnyaratih bersama karyanya Tideglow yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu. (Kredit Foto: Nuanu Creative City/pp)

Berbasis di Bali dengan latar belakang desain grafis, praktik seni Wicitra Pradnyaratih berkembang melalui eksplorasi visual yang memadukan medium digital dan lukisan akrilik. Baginya, seni merupakan cara untuk merespons lingkungan dan kultur di sekitarnya—tidak hanya dari sisi tradisi Bali, tetapi juga dari berbagai pengaruh budaya yang membentuk cara pandangnya.

Dalam praktiknya, Wicitra kerap mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, dan suara melalui pendekatan audio-visual. Ia membangun narasi yang ia sebut sebagai feminine landscape, sebuah lanskap visual yang menonjolkan sisi organik dan emosional dari alam.

Melalui karya yang ditampilkan di Semburat Bali yaitu Tideglow dan Midnight Bloom, Wicitra merefleksikan hubungan antara waktu, siklus kehidupan, dan kekuatan yang sering hadir secara sunyi dalam alam. Dalam

Midnight Bloom, motif anggrek dan lili muncul sebagai simbol ketahanan dan ketekunan yang tumbuh perlahan di tengah keheningan malam. Terinspirasi dari tradisi seni feminis, representasi bunga dalam karya ini tidak lagi ditempatkan sebagai ornamen pasif yang identik dengan stereotip feminitas, melainkan sebagai penanda kekuatan, individualitas, dan kompleksitas pengalaman perempuan.

Dalam komposisinya, figur bunga tersebut digambarkan berada di tengah arus udara dan air yang dinamis. Meski tampak kecil dan berdiri sendiri, bunga itu tetap berakar kuat—mandiri, bertahan, dan memancarkan kekuatan yang tenang. Di pusat komposisi, bentuk menyerupai mutiara menjadi simbol inti dari daya hidup yang tersembunyi namun terus bersinar.

Bagi Wicitra, pengalaman sebagai perempuan juga turut membentuk cara ia memandang dunia dan menciptakan karya.

“Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,” ujarnya.

Ia juga melihat ruang kreatif sebagai elemen penting dalam memperluas akses tersebut.

“Keberadaan platform yang memberi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya dan berdialog dengan publik sangat penting. Harapannya, ruang-ruang kreatif seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak seniman dari berbagai latar belakang.” tambah Wicitra. 

Menenun Cerita, Merangkai Perjalanan 


Sarita Ibnoe bersama karyanya Resistance yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu. (Kredit Foto: Nuanu Creative City/pp)

Seniman multidisipliner Sarita Ibnoe, yang telah berkarya dan berpameran sejak 2013, dikenal melalui praktik artistiknya yang berakar pada tekstil—khususnya teknik tenun. Dari medium tersebut, karyanya kemudian berkembang ke berbagai bentuk ekspresi lain seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori.

Bagi Sarita, proses menenun bukan sekadar teknik artistik, melainkan cara untuk merangkai pengalaman hidup menjadi sebuah narasi visual.

Dalam pameran ini, ia menampilkan sejumlah karya seperti UnaccustomedThe New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1Resistance, serta Note. Karya-karya tersebut merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial yang ia saksikan.

Salah satu karya yang menonjol adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi yang terjadi di Jakarta—sebuah peristiwa sosial yang dalam prosesnya menelan korban jiwa. Melalui karya ini, Sarita menghadirkan refleksi sekaligus penghormatan terhadap peristiwa tersebut. Penggunaan warna hijau dan merah muda menjadi simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat, sebuah penanda bahwa dalam situasi krisis, kekuatan sering kali lahir dari kebersamaan.

Sebagai perempuan yang berkarya di bidang seni, Sarita melihat bahwa kontribusi perempuan dalam ekosistem kreatif saat ini semakin terlihat dan signifikan. Menurutnya, perempuan tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak berbagai aspek dalam dunia seni.

“Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni—sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya ruang yang memungkinkan seniman untuk saling terhubung dan berbagi pengalaman.

“Ruang seperti ini penting untuk membangun komunitas di antara seniman, untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Ketika kita saling terhubung, ekosistem kreatif bisa berkembang dengan lebih sehat.” tutup Sarita. 

Ekosistem Kreatif yang Membuka Ruang Perspektif

Bagi Nuanu, membangun ekosistem kreatif bukan sekadar menghadirkan ruang fisik bagi praktik seni, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana berbagai perspektif dapat bertemu dan saling memperkaya.

“Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan,” ujar Samuel David, Gallery Manager Labyrinth Art Gallery. “Kami ingin memastikan bahwa platform seperti Labyrinth dapat menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam—termasuk suara dan pengalaman perempuan dalam praktik seni.”

Ketika seniman dari latar belakang yang berbeda memiliki ruang untuk berbagi gagasan, percakapan kreatif yang lahir menjadi lebih dinamis dan relevan dengan dinamika masyarakat.

Melalui ekosistem yang terus berkembang, Nuanu berupaya menghadirkan ruang bagi praktik artistik yang beragam sekaligus mendorong dialog kreatif yang lebih inklusif—di mana berbagai suara, termasuk perspektif perempuan, dapat hadir dan berkontribusi dalam membentuk lanskap seni yang terus bergerak ke depan. (rd/pp)





Minggu, 08 Februari 2026

Coffee Shop di Kota Bandung: Dinamika Budaya Ngopi, Ruang Sosial, dan Peluang Spasial Perkotaan

 Oleh : Fabian Satya Rabani 
(Siswa SMA Talenta Bandung)

Excelso coffee shop, Jalan Sentra Raya Selatan, Kota Bandung (Sumber Foto: Dokumen penulis/pp)

Kota Bandung dikenal luas sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan industri kreatif yang sangat pesat di Indonesia. Julukan sebagai kota kreatif tidak hanya tercermin dari sektor fesyen, musik, dan seni visual, tetapi juga dari perkembangan sektor kuliner dan gaya hidup urban.

Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu fenomena yang paling menonjol adalah meningkatnya jumlah coffee shop yang tersebar hampir di seluruh sudut Kota Bandung. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan tren konsumsi kopi, tetapi juga menunjukkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perkotaan yang semakin kompleks.

Keberadaan coffee shop di Bandung kini tidak lagi berfungsi semata-mata sebagai tempat menikmati kopi. Lebih dari itu, kedai kopi telah bertransformasi menjadi ruang sosial multifungsi: tempat bekerja (work from café), ruang diskusi komunitas, lokasi pertemuan informal, hingga destinasi wisata alternatif bagi warga lokal maupun wisatawan.

Perubahan fungsi ini memperkuat posisi coffee shop sebagai bagian dari infrastruktur sosial kota, yaitu ruang yang memfasilitasi interaksi, kreativitas, dan pertukaran gagasan. Konsep ini sejalan dengan pemikiran Ray Oldenburg dalam The Great Good Place (1999) yang menempatkan kafe dan kedai kopi sebagai third place, yakni ruang penting di luar rumah dan tempat kerja yang membangun kohesi sosial masyarakat urban.

Peningkatan popularitas coffee shop di Kota Bandung juga berkaitan erat dengan perubahan pola perilaku masyarakat, khususnya generasi muda dan pekerja kreatif. Ardhana dan Widjajanti dalam artikel Perubahan Fungsi Kafe sebagai Ruang Sosial di Kawasan Perkotaan (2020) menjelaskan bahwa kafe dan coffee shop kini dipersepsikan sebagai ruang yang fleksibel, nyaman, dan relatif netral. Ruang semacam ini memungkinkan individu melakukan berbagai aktivitas sekaligus, mulai dari bekerja, bersosialisasi, hingga beristirahat, tanpa tekanan formal seperti di kantor atau institusi pendidikan.

TOMORO COFFEE, Jalan Braga, Kota Bandung (Sumber Foto: Dokumen penulis)

Budaya nongkrong yang telah lama mengakar dalam masyarakat Sunda turut memperkuat posisi coffee shop di Bandung. Tradisi berkumpul, berbincang, dan bertukar cerita yang sebelumnya berlangsung di warung kopi tradisional kini mengalami transformasi ruang dan citra. Coffee shop modern hadir dengan desain interior yang estetik, fasilitas internet nirkabel, serta ragam menu yang lebih variatif. Meskipun demikian, fungsi sosialnya tetap serupa, yaitu sebagai ruang pertemuan yang cair dan inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat kota.

Contoh menu kopi di TOMORO COFFEE, Jalan Braga, Kota Bandung (Foto: Dokumen penulis)

Dari sisi ekonomi, menjamurnya coffee shop memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Bandung. Industri kopi membuka peluang kewirausahaan baru, mulai dari pemilik kedai, barista, roaster, hingga pemasok bahan baku. Hal ini ditegaskan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam sambutannya pada acara Bandung Coffee Carnival (30 November 2025).

Ia menyatakan bahwa ekosistem kopi di Bandung telah mencapai fase kematangan, ditandai dengan keterhubungan antarpelaku industri dari hulu hingga hilir serta meningkatnya kesejahteraan pekerja di sektor ini. Menurutnya, maraknya coffee shop tidak hanya menciptakan ruang konsumsi, tetapi juga membuka lapangan kerja formal maupun informal, termasuk bagi pekerja paruh waktu.

Namun demikian, pertumbuhan jumlah coffee shop yang sangat pesat juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait persebaran spasial dan tingkat persaingan usaha. Di beberapa wilayah pusat kota seperti Coblong, Bandung Wetan, dan Sumur Bandung, konsentrasi coffee shop sangat tinggi. Kondisi ini menciptakan persaingan yang ketat antar pelaku usaha.

Di sisi lain, terdapat wilayah-wilayah dengan jumlah penduduk besar dan aktivitas sosial yang tinggi, tetapi masih relatif minim keberadaan coffee shop. Situasi ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi ruang usaha di dalam kota.

Camp Coffee Indonesia, Jalan Kepatihan, Kota Bandung (Foto: Dokumen penulis)

Untuk mengidentifikasi peluang pengembangan coffee shop secara lebih merata, diperlukan pendekatan analisis spasial berbasis data geografis. Analisis ini memanfaatkan data persebaran coffee shop, jumlah penduduk per kecamatan, batas administrasi wilayah, serta intensitas cahaya malam hari atau Nighttime Light (NTL). Data NTL digunakan sebagai indikator tidak langsung dari aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, khususnya pada malam hari, yang sangat relevan dengan karakter operasional coffee shop.

Berdasarkan data demografi yang dirilis dalam Kota Bandung dalam Angka 2024 oleh Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2024), beberapa kecamatan seperti Bandung Kulon, Babakan Ciparay, dan Kiaracondong memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Tingginya populasi ini menunjukkan potensi pasar yang besar bagi pengembangan usaha coffee shop. Namun, jumlah penduduk perlu dikombinasikan dengan indikator aktivitas wilayah agar analisis menjadi lebih komprehensif. 


Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa Kecamatan Bandung Kulon memiliki potensi yang sangat tinggi untuk pengembangan
coffee shop baru. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk besar dan tingkat aktivitas malam yang cukup signifikan, namun jumlah coffee shop yang beroperasi masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya market gap, yaitu kesenjangan antara potensi pasar dan ketersediaan layanan. 

Hampir setiap minimarket menyediakan kedai kopi (Foto: Dokumen penulis)

Temuan ini sejalan dengan kajian Maulana, Putri, dan Nugraha dalam Analisis Spasial Persebaran Kafe dan Coffee Shop di Kawasan Perkotaan (2021) yang menyatakan bahwa kawasan berpenduduk padat dengan tingkat aktivitas sosial tinggi, tetapi belum jenuh oleh usaha sejenis, merupakan lokasi strategis bagi pengembangan coffee shop.

Dengan demikian, meningkatnya popularitas coffee shop di Kota Bandung tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat urban, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan perencanaan ruang kota yang strategis. Coffee shop telah berkembang menjadi elemen penting dalam struktur sosial dan ekonomi perkotaan. Melalui pendekatan analisis spasial yang berbasis data, pengembangan coffee shop di Bandung dapat dilakukan secara lebih terarah, merata, dan berkelanjutan, sehingga tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memperkaya kualitas ruang hidup masyarakat kota.(*)

























Nuanu Creative City Soroti Peran Seniman Perempuan dalam Ekosistem Kreatif

Sebagai sebuah ekosistem kreatif yang mempertemukan seni, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin,  Nuanu Creative City  terus menghadirkan ...